MADUKU, SAHABATKU SENDIRI

Satu kata lima huruf, mampu membuat seseorang menjadi buta apalagi demi kebahagiaan orang lain bahkan sahabatnya sendiri.

MADUKU, SAHABATKU SENDIRI

Maduku, Sahabatku Sendiri 

Karya : BINTANG SENJA 

Terlihat di sana sosok yang kucintai sangat gagah menggunakan pakaian serba putih,  terlihat sempurna dan elegan. Namun, aku enggan melihatnya, karena tak sanggup saat dia menikah lagi. 

Semua yang menyaksikan acara akad tersebut pada beralih menatapku dengan sendu dan sinis. Sedangkan aku,  air mata yang ditahan sedari tadi lolos mengalir dengan derasnya. Saat Mas Azam mengucapkan janji suci yang kedua kali dengan wanita  itu. Para penghulu dan saksi berteriak SAH,  Ike dan bunda Syaira tersenyum bahagia berbeda dengan Mas Azam ia langsung menatapku dengan perasaan bersalah. 

Jadi begini rasanya bisa berbagi suami dengan sahabat sendiri seperti novel yang pernah kubaca?  Sakit,  kecewa,  dan merasa dikhianati. 

"Selamat ya sayang,  sekarang kamu sudah jadi menantu bunda,"  kata bunda sambil mengecup pipi Mbak Ike. "Semoga cepat dapat momongan ya,  enggak kayak si itu sudah 2 tahun menikah sama anak saya sampai sekarang belum  dapat keturunan, " sambungnya lagi dan aku pun menunduk saat bunda menyindirku. 

"Bunda. " Aku mendongak saat Mas Azam menegur bunda Syaira. 

Kulihat dari ekor mata,  terlihat dari gerak-geriknya Mas Azam  tak nyaman dengan situasi ini dan di dekat  Ike, istrinya yang beberapa menit yang lalu. 

Semua orang sibuk mendoakan mereka berdua,  aku tersisihkan bahkan tak dianggap. Kulihat mereka bahagia, sangat bahagia tanpa dirinya.   Ike,  perempuan yang dulunya jarang tersenyum kini bibirnya terangkat ke atas yang menampilkan sebuah senyuman merekah.  Di sana aku pun tersenyum. 

"Mungkin,  inilah kebahagiaanmu yang sebenarnya. Maaf,  aku jadi penghalang untuk mendapatkan orang yang kamu sukai." aku pun pergi berlalu tanpa menghiraukan ucapan mertuaku. 

"Gini nih,  yang bunda tak suka dari wanita itu, main pergi saja tanpa salam," sindir Bunda Syaira saat melihat Kholi pergi. 

"Wanita itu istri pertamanya Azam dan dia punya nama bun,  Kholizah Tahajjana," jawab Mas Azam sambil menatap sendu ke arah Kholi yang menjauh. 

"lalu apa kabar dengan aku mas?" tanya Ike sambil tersenyum misterius. Dan dibalas kekehan semata dari bunda Syaira 

                                *** 

Prang! 

Plak! 

"Kamu mau membunuh bayiku dengan makanan ini hah?!" suara  Ike menggelegar ditelinga dan tamparannya sangat perih mengenai pipiku.  

"Heh!  Jawab!  Kenapa diam?  Atau kamu iri ya sama aku?" tanyanya sambil menyindirku dengan mengelus perutnya yang sedikit membuncit. 

Aku hanya bisa menangis dalam diam,  menerima kekasaran dari  Ike.   

Karena sudah gregetan dengan tingkah diamku,  ia pun langsung mendorong tubuhku begitu keras sampai pecahan piring yang tadi ia lempar mengenai tangan kanan.  Aku tak bisa apa-apa selama 5 bulan ini,  semuanya berubah saat Mas Azam membawa  Ike ke rumah dan di situ Ike berkuasa. 

"Hiks...  Apa salahku, Ke?" tanyaku sembari menahan perih di pipi dan ditangan.  

"Aku ingin kamu pergi dari kehidupan Mas Azam itu saja," jawabnya sambil menjentikkan kuku panjang yang ia rawat selama tinggal di sini. "Satu lagi,  jangan pernah bilang sama Mas Azam perihal tadi." 

Tanpa berkata dan air mata terus mengalir menahan perih hati dan tangan, Aku pun membereskan kekacauan yang dibuat  Ike,  supaya Mas Azam tak menaruh curiga,  "Ya Allah,  kuatkanlah hamba dengan berbagai cobaan ini." 

Setelah menyelesaikan kekacuan tersebut,  lalu membuatkan Mas Azam Kopi kesukaannya dan menuju ke ruangan tamu. Kulihat di sana  Ike menyenderkan kepalanya terhadap suamiku.  Boleh aku bilang suamiku walaupun dia telah menikahi wanita lain?  

"Mas, nih kopinya." setelah menaruh kopi hitam, aku pun pergi meninggalkan mereka. Karena 

sedari tadi Mas Azam melihat ke arahku dengan tatapan itu lagi, di situ aku semakin merasa bersalah. 

Kusenderkan kepalaku di pintu yang sudah tertutup rapat dan terkunci. Menangis adalah salah satu hobiku sejak Mas Azam menikah.  Air mata yang setiap hari mengalir deras tak pernah henti, sungguh menyesakkan. Rumah tangga yang  selalu kuimpikan telah hancur berkeping-keping. 

"Maafkan aku mas." 

Aku pun berdiri dan mengambil air wudhu dan sholat,  hanya Allah lah sahabatku yang menenangkan hati dan pikiran. 

                                            *** 

Sudah setengah tahun lebih,  aku harus menahan luka batin dan luka disekujur tubuhku.  Semua orang di rumah tahu bahkan Mas Azan -Kakak kembarnya Mas Azam- kecuali Mas Azam, dengan perbuatan dari  Ike.  

Rumah yang dulu isinya canda tawa kini tergantikan dengan suara bentakkan, pecahan kaca dan marah dari seorang Afike Yaltaqiyan. Semua orang tahu kejahatan dari Ike namun Mas Azam tak pernah mengetahuinya. 

"Kamu itu benalu dari keluarga Assegaf!" teriaknya sambil menggendong Kholiq -putra pertamanya dengan Mas Azam- 

Hanya karena kesalahan kecil aku selalu dihina dan dicaci maki olehnya yang dulu yang kuanggap sebagai saudara kandung,  namun apakah ia pantas kusebut saudara?  

"Diam!  Seharusnya kamu tahu diri Ike,  yang benalu itu kamu sendiri," hardik Mas Azan -saudara kembarnya Mas Azam- sambil memapahku supaya berdiri. "Kau itu hanya seorang pelakor mengambil hak milik orang lain, bukan kah begitu Ike?" 

Ike geram dengan jawaban dari Mas Azan. 

"Apa pantas seorang perempuan mandul ada di keluarga Assegaf," berjalan mendekatku dan putranya yang ada di gendongan tersebut langsung diberikan ke salah satu pembantu. "Kamu itu mandul,  Kholi,  jadi apa yang kau berikan untuk Mas Azam." 

Degh! 

"Cukup Ike! Saya enggak mandul, seharusnya kamu tahu diri, dulu kau yang menawarkan diri untuk menikahi Mas Azam. Di mana letak rasa malumu?" bentakku dan mengejutkan semua orang yang di sana bahkan Ike. 

Selepas dari terkejutnya, ia pun tersenyum miring. 

Prok! Prok! Prok 

“Malu? SEHARUSNYA KAMU YANG MALU, KARENA MEREBUT ORANG YANG DICINTAI SAHABATMU SENDIRI KHOLI?!” bentak Ike dan membuat orang yang di sana kaget apa yang diucapkan wanita sexy ini. 

Aku terdiam, saat ucapan itu terlontar lagi. 

"Cukup Ike,  kau sudah keterlaluan?!" bentak Mas Azan terhadap Ike. 

Semua orang di rumah pun terkejut bahkan aku sendiri, ini pertama kalinya sosok kalem dari Mas Azan telah pergi entah ke mana namun tergantikan oleh kemarahan. 

"Wow, seorang dari Azani Rahman Assegaf membentak istri dari adik kembarnya sendiri, ini sangat mengejutkan."  Ike pun pura-pura terkejut dan beralih menatapku, "cuma karena wanita mandul ini,  Azan si kalem berubah jadi pemarah?  Apakah kau mencintai benalu ini." sambil menujuk wajahku dengan telunjuknya. 

Mas Azan langsung menepisnya dengan keras. "Cih,  wanita ular sepertimu tak pantas menjadi istri dari Azami Rahman Assegaf." 

Ike tersenyum sinis dan bertepuk tangan,  "wow,  hebat sekali kamu Kholi,  kau membuat Azan si kalem ini bisa jadi pemarah juga.  Kenapa kamu tak menikahi Azan saja dan meninggalkan Aza ... m." ucapannya terpotong oleh suara teriakan dari pintu terlihat Mas Azam wajahnya menahan amarah 

"Ike!!"  Ike pun terkejut dengan seruan dari belakangnya,  ia terkaget dan mendekati Mas Azam. 

"Ma--as Azam kapan pulang?" tanyanya sambil menggandeng lengan Mas Azam,  aku menunduk melihat pemandangan yang membuat batinku tersakiti. Sedangkan yang lain menatapnya jengah. 

"Cih,  wanita ular selalu bermuka dua," sindir Mas Azan. 

"Mas,  tadi mereka memarahiku bahkan Kholi juga sempat membentakku."  Ike pun mengadu dan membalikkan fakta,  karena aku selalu yang disalahkan atas kesalahan  Ike sendiri. Namun  aku terkejut saat melihat Mas Azam melepaskan pelukan dari  Ike. 

"Dramamu sungguh cantik, wajahmu saja bagaikan malaikat namun hati ibarat iblis membusuk." 

"Maksud mas apa?" tanyanya manja dan mencoba meraih lengan Mas Azam namun langsung ditepis. 

"Enggak usah pura-pura Ike,  aku tahu kelakuanmu pada istriku, Kholi." terdengar dari ucapan Mas Azam seperti menahan amarah.  Apa yang terjadi? 

"Bang Azam hanya menjawab dari pertanyaanmu,  kenapa kamu yang tegang Ike?" sindir Mas Azan saat melihat Ike tegang akan jawaban dari suaminya. 

"Maksud mas?" tanyanya dengan setenang mungkin. 

“Saya sudah tahu kelakuanmu selama ini Ike.” Mas Azam melangkah mendekatiku dan sambil menyeringai ke arah Mbak Ike kelihatan tegang, “Saya sudah peringatkan sama kamu, Ike. Jangan pernah berani menyentuh atau menyakiti Kholi. Tetapi rupanya kamu bandel juga ya,” sambungnya dan aku langsung menatap Mas Azam was-wasan. Kalau sudah begini aku enggak diprediksi kalau Mbak Ike akan selamat. Aku sangat tahu, Mas Azam kalau sudah emosi akan berubah jadi moster. 

Semua orang yang berada di ruangan ini, merasakan aura yang mencengkamkan dari tatapan Azami Reyhan Assegaf suami sah dari Kholizah Tahajjana dan Atike Yaltaqiyan. Ah, apakah Azam akan menganggap Ike istrinya atau tidak? 

“Ma-maksud mas apa?” tanya Mbak Ike gugup dan sedikit pucat. Aku yang melihatnya merasa kasihan. 

“Dasar jalang! Akui saja tingkah burukmu di depan semua orang! Jangan pura-pura bodoh?!” karena sudah geregetan dengan tingkah kepura-puraan Ike, Azan buka suara dengan nada membentak. Aku kaget lagi! Bukan aku saja, tetapi Mas Azam pun sama, ya, sama-sama terkejut. 

Flashback 

Di bawah pohon rindang terdapat dua mahasiswi berhijab sedang berteduh sambil berkipas menggunakan buku yang mereka pegang masing-masing. Terik matahari di Kota Mataram membuat mereka seperti ikan yang di jemur. Di saat mereka menikmati angin buatan sendiri, mereka dikejutkan oleh suara mahasiswi UNRAM Fakultas Teknik  yang sangat mengganggu. Mereka pun langsung melihat ke sumber teriakan di lapangan basket. 

“Calon suamiku kok tambah ganteng ya?” tanya jilbab biru memandang kagum ke arah lapangan. 

“Zina mata, dosa loh, Ke,” jawab berhijab hitam kebesaran sambil menutup mata sahabatnya itu. 

“Ih, Kholi, aku kan Cuma lihat calon suami aku Mas Azam,” gerutunya sambil melepaskan tangan Kholi. 

Ya, mereka adalah Atike Yaltaqiyan dan Kholizah Tahajjana yang sering dipanggil Ike dan Kholi. Mereka adalah sahabat sejak MTS di salah satu pesantren di Kediri, Lombok Barat. Pesantren Nurul Hakim, itulah tempat mereka dipertemukan dan menjadikan mereka tak pernah pisah sampai saat ini. Namun, untuk ke depannya entah seperti apa. 

Ike yang cerewet, bawel, manja, baik.  Sedangkan Kholi yang kalem, baik, dewasa. Walaupun sifat mereka bertolak belakang namun sahabat mereka erat seerat baja. 

“Kholi, Mas Azam lihat ke arah kita,” histeris Ike dan Kholi langsung membekap mulut Ike. Kalau tak dibekap bisa malu nanti, karena ia sudah tahu betapa sukanya Ike pada pria yang di tengah lapangan itu. Kholi tahu, kalau Azam menatap ke arah mereka lebih tepatnya ke dirinya, ia langsung menunduk saat melepaskan tangannya dari mulut Ike. 

Azan  pun mendekati Azam untuk menghampiri Ike dan Kholi, dan membuat semua orang di sana histeris begitu pun dengan Ike yang sudah cacingan, berbeda dengan Kholi yang diam sambil menunduk. 

*** 

  Cinta. Satu kata lima huruf. Mampu merusak kedekatan seseorang yang sudah dianggap saudara. Karena cinta, semua orang buta akan perasaan orang lain. Karena cinta juga membuat kita kehilangan orang yang sangat berarti di hidup. Tetapi, apa yang kalian harapkan dari cinta di saat semuanya di regut begitu saja?  Kadang juga, semua orang suka salah paham dengan datangnya cinta. Kenapa harus ada cinta bertepuk sebelah tangan? Kenapa juga harus ada sakitnya jatuh cinta? Kenapa? 

“Kamu tahu kalau aku suka sama Mas Azam, kenapa kamu mengambilnya dariku, Khol?” Ike menatap kecewa ke arah Kholi yang berusaha menenangkannya. Air mata mereka mengalir deras tanpa henti. 

“Enggak, Ke, aku enggak pernah mengambil Mas Azam darimu.” Sambil memegang bahu Ike untuk menyakinkan sahabatnya ini. 

“Lantas tadi itu apa, Khol? Mas Azam datang ke rumahmu dan menawarkan diri untuk melamarmu?!” bentaknya sambil mengguncang tubuh kholi. 

“Ike, dengarkan aku, ak—aw,“ ucapan Kholi terpotong dengan dorongan dari Ike dan membuat tubuhnya terjatuh ke tanah yang membuat pergelangan tangannya sedikit tergores. 

“Lihat, lihat Kholi! Pergelangan tanganmu Cuma tergores karena terjatuh di tanah. Lalu, bagaimana perasaanku saat aku terjatuh karena kamu merebutnya dariku?! Bagaimana perasaannya Kholi? Bagaimana?!” 

“Kholi, yang aku kenal orang yang baik dan pengertian. Tetapi, kenapa kamu jahat sama aku Kholizah. Kenapa?! Kenapa?!” 

Kholi menatap Ike iba, air mata mereka mengalir deras dan matanya mereka merah. 

Ike pun jongkok menghadap ke arah sahabatnya itu yang masih menangis tersedu-sedu. Ia pun memegang erat bahu  sambil menatap wajah Kholi. 

“Kenapa harus Azam yang melamarmu Kholi, kenapa harus dia? Aku sayang sama dia bahkan mencintainya, Li. Dan itu juga kamu sudah mengetahuinya,” lirihnya sambil memejamkan matanya dan menghembuskan napas. 

Ike pun langsung berdiri dan mengusap air matanya lalu mengulurkan tangannya ke arah Kholi yang masih mendongak. Ia pun langsung memeluk Kholi, saat sahabatnya itu menerima uluran tangannya. 

“Terimalah Azam, Li, bahagiakan dia aku tak apa-apa kok,” bisiknya sambil tersenyum misterius. 

“Maksud kamu, Ke?” dan melepaskan pelukan sambil menatap Ike namun yang dibalas senyuman. 

Kholi pun langsung mengerti dan langsung menubruk tubuh Ike ke dalam pelukannya. 

*** 

2 tahun yang lalu 

Sesuai dari rencananya, ia harus berhasil untuk mendapatkan cintanya. Sudah cukup ia mencintai dalam diam, mencintai orang yang membuatnya segila ini dan membuatnya lupa siapa yang ia cintai. Memang dulu dia yang mengalah bukan untuk sahabatnya namun dia mempunyai rencana dan sekarang rencana itu berhasil. Saat istri dari orang yang ia cintai mendekati  dengan terkejut. 

“Assalamualaikum.” Wanita yang disapa hanya tersenyum angkuh dan membalas pelukan. 

“Kamu berubah, Ike, kenapa berpakaian seperti ini?” tanya perempuan berhijab itu sambil meneliti pakaian yang ada di depannya. Sungguh di luar ekspentasinya. Pakaian yang sangat minim dan terbuka.  

“Kamu sekarang tambah cerewet ya?” tanya Ike dan langsung duduk di ikuti oleh perempuan itu yang tak lain adalah Kholi. 

“Ah ya! Aku terlalu malas berbasa-basi Kholi, bagaimana tawaranku setahun yang lalu, Li?” tanyanya serius dan membuat Kholi diam. 

“Li, jangan egois, suamimu butuh penerusnya suatu saat nanti. Maka dari itu, tawaran setahun yang lalu masih berlaku untukmu.” Bujuk Ike, saat tahu Kholi merenungi ucapannya. 

Ike tak akan menyerah sebelum apa yang ia inginkan harus tercapai. Itulah sosok Ike yang sekarang 

*** 

“Ya, aku yang menyuruh Kholi untuk menikahimu Azam. Karena aku mencintaimu sejak dulu!” teriak Ike karena dari tadi semua orang menyalahkannya, “Aku mencintaimu Azam , aku sangat mencintaimu!” 

Semua orang di rumah kaget akan pengakuan Ike, secinta itukah Ike terhadap Azam? 

Di sini aku merasa bersalah, melihat perubahan Ike hanya demi mendapatkan cintanya kembali. Mulai dari berpakaian, yang dulunya tertutup kini terbuka luas. Lalu tata cara bicaranya, karena cinta semua orang lupa diri.

Tamat.