Pedih Namun Sehati

Pedih Namun Sehati
Pinterest

Pedih Namun Sehati

"Terkadang rasa egois, akan berakhir teriris..”

     Sore itu, waktu pulang sekolah aku syafisya nekat mengutarakan perasaan. Perasaan yang lama tubuh dari cinta klasik saat masa lalu pernah berjumpa denganmu. Adakah kemungkinan terjadi untuk beberapa waktu kedepan atau hanya sebuah singgahan yang berupa penyesalan. Biar waktu yang menjawabnya.

" Pernahkah kau melirikku sebentar saja ?". ucapku bertanya dengan menatap matanya.

(sedang yang ditatap hanya menaikkan sebelah alisnya)

"Kamu terlalu egois dik. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang mengganggu hatiku. Bahkan, setelah aku mengutarakannya. Kau semakin menjauh."

"Setidaknya dengarkan keluhku, jangan mengganggap isi bicaraku". dengan nafas yang sedikit menggebu mencoba menetralkan jiwaku.

"Sudahlah Syaf, jika kamu sudah selesai bicara. Aku pergi". ucapnya meninggalkanku.

       Dia yang pergi begitu saja tanpa mendengar alasan mengapa aku mengungkapkannya. Tuhan, kenapa hambamu itu egois sekali, tapi sayangnya dia sahabatku atau otewe menjadi mantan. Aku hanya ingin melepas bebanku tetapi dia melepaskan tali yang telah tertaut 17 tahun yang lalu. Hanya karena beban rasa yang ingin segera ku singkirkan begitu saja.

***

        Setelah pulang dari sekolah, kuputuskan untuk mendinginkan pikiranku dengan mandi. Tak kusangka sosok yang begitu dekat denganku, menembakku secara langsung terlalu kaget untukku pertama kali mendengarnya mengatakan itu. Ku kira, sudah mengenalnya dengan baik, setelah bertahun – tahun lamanya.

“Kenyataan yang tak sesuai” ucapku dalam hati.

(Menghapus embun kaca kamar mandi dan menatap diriku di dalamnya)

“Apakah pantas diriku yang seperti ini, disukai olehmu syaf”

“Aku ingin menjagamu syaf. Tapi, saat aku sudah mampu membahagiakanmu dengan ikatan yang lebih baik”. ucapku bermonolog.

     Memiliki sesuatu yang tak bisa diungkapkan, biarlah menjadi hadiah istimewa untukmu mendapatkannya nanti. Sekarang pikirkan kelas 12 sebentar lagi akan usai, ujian menanti di depan mata mempersiapakan adalah hal yang paling utama. Setidaknya untuk saat ini aku akan menghubunginya dan belajar mengabaikan rasanya hingga waktunya tiba.

(Mengambil benda pipih  dan menekan tombol hijau)

Tut....tut....tut... Syafii moo is calling....

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah untuk beberapa saat lagi”

(rasa khawatir merasuk dalam hati)

“Telfon bunda aja deh”

Tut...tut...

“Halooo, assalammualaikum nak”

“Waalaikumsalam bunda, syafiisya udah pulang sekolah bunda?” tanyaku.

“Sudah kok nak, tapi tadi matanya kaya abis nangis. Apa kalian bertengkar?”

“Tidak kok bund”

“Ohiya bund, jangan bilang dika telfon ya bund” pesanku pada bunda.

“Iya, cepet baikan ya nak”

“Iya bund”

Tut...tut..tut..

(Alhamdulilah, Maafkan dika tuhan udah bikin anak orang nangis)

 “Menangislah dan maafkan aku. Besok aku jemput sekolah” mengklik tombol send.

            Kuputuskan untuk mengirim beberapa untaian kata tuk menjadi sebaris kalimat, agar ia cepat tenang. Karena menangisnya wanita sungguh melelahkan. Tak lama 30 detik, tanda centang telah berwarna dan sebuah balasan akan segeraku terima. Sepertinya diriku harus berterimkasih dengan  Mark Zuckerberg karena sudah memfasilitasi hal ini, meski rumit dan terasa sakit.

“Sok tauh”

“Ogah besok naik angkot gausah jemput” Balasnya.

“Oke” ketikku lalu send.

(Oke dalam artian jemput subuh biar gabisa kabur nih anak orang, lumayan juga free bekal dari bunda tersayang)

***

        Waktu berlalu begitu cepat hingga menghasilkan mata yang habis digebukin, iya digebukin pertama rasa malu, kedua kebodohan, dan ketiga perasaan yang tak berbalas. Konsekuensi syaf mau gimana lagi. Untungnya tidak ditanya bunda aneh – aneh.

Message “Celenting” .

“Tumben, ada pesan masuk biasanya sepi kek kuburan” ucapku dengan mengucek mata.

(Melihat nama kontak)

“Menangislah dan maafkan aku. Besok aku jemput sekolah”

“Dika sialan, beraninya nunjukin muka lo” segera membalas pesannya.

“Tidooorrrr,, daripada mikirin penolakan gajelasssss” teriakku hingga cicak di sudut ruang terjatuh. *pluk.

***

            Telah memasuki waktu shubuh. Waktu pertengkaran dua manusia muda yang telah sholat ribut bercaci maki bukan malah mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah pagi – pagi. Mereka tidak tahu bahwa akan ada masalah yang menimpa mereka atau bahkan memisahkannya.

“Hey, musuh ngapain lo disini. Pagi – pagi kerumah orang gatau malu banget lo”

“Orang gue dipanggil bunda kok, iya enggak bund”

“Betul”

“Alah alasan aja lu kutu kupret. Pergi enggak lo dari rumah gue. Gue pites tau rasa lo”

“Idih, Ogah banget”

“Lo niruin bahasa gue, berani ya lo”

(Kejar – kejaran pun terjadi hingga sebuah teriakan menghentikan kegiatan tersebut).

“STOPPP”

“Berhenti, bunda bosen liat kalian bertengkar terus”

“Lama – lama bunda nikahin juga kalian, berangkat sekolah sana” perintah bunda.

       Mereka pun berlari mengambil tas masing – masing dan segera pamit. Tak sampai disitu edisi pertengkaran masih terus berlanjut hingga sepanjang jalan perboncengan dari rem mendadak, saling menjitak dan sampai ke sekolah dengan selamat. Sesampainya disekolah takdir lain pun berkata hal yang diharapkan dan akan membuat perpisahan yang panjang penuh drama akan mengiringi kisah mereka.

(Memakirkan motor dan turun menjauh darinya)

Berdetak ketika dekat dengannya adalah hal yang tak baik. Batinku dalam hati

“Simpan detakmu syaf, karena aku takkan jatuh cinta kepadamu” ucapku.

“Dasar cenayang, bangsat” ucapnya pedih dan pergi jauh menuju kelas.

“Maafkan aku yang berbohong syaf” menatap kepergiannya.

        Hingga tak lama datang seorang gadis yang begitu ku benci, menggandeng tanganku tanpa permisi dan berjalan melewati lorong – lorong kelas yang akan menjadi keping kenangan ini. Pembelajaran pun berlangsung sekitar 4 jam berlalu hingga bel istirahat berbunyi, aku dan geng sekolah berkumpul di pojok kantin dan sialnya gadis cabe ini tetap menempel bak lintah darat bergelayut bagai gorilla afrika.

“Lihatlah arah jammu dik, seseorang sedang menatapmu” bisik afir dengan menepuk pundakku.

(Menatap matanya sebentar yang sepertinya mulai menggenang, dan  segera mengalihkan pandang ke arah lain”

“Biarkan saja fir” ucapku apa yang dimaksud afir.

“Jangan sampai menyesal bro” pesannya dengan mantap.

(Menoleh kembali tuk melihat pundaknya yang telah menghilang dibalik tikungan tembok).

        Entah mengapa selama jam pelajaran terakhir aku selalu memikirkan kata afir. Apakah ia begitu terluka ataukah harus ku khianati saja pendirian yang ku buat di ujung rasa hingga saatnya tiba. Pelajaran berakhir ditandai dengan suara bel berbunyi segera saja kususul shafiya di kelasnya.

“Ver, shafiya ada disuruh bunda pulang bareng?” Ucapku bertanya pada vera teman sebangkunya.

“Dia udah pulang duluan asal lo tahu dik”

“ Oh ya, jangan sakitin sahabat gue atau lo akan menyesal” sebuah peringatan 2

“Hmmm ya..’”

       Berlalu begitu saja tuk pulang mengendarai sebuah kuda besi di jalanan yang tampak ramai ini, nampak diujung sana senja keluar nampak indah bersama riuh suara orang yang ramai di tengah jalan tak jauh dari aku memandang sang senja. Penasaran, itu yang ada dibenakku saat ini memandang  sebuah ambulance yang tiba dengan orang  - orang yang ramai menolong seseorang.

(Mulai berjalan mendekat dengan hati yang berdetak)

Dug...duggg.dugg..dugg

        Membelah kerumunan dengan kedua tangan, aku melihat sosok yang ku kenal sedang terbaring lemah disana. Sosok yang menguji hatiku dengan teganya.

“Syaf, bangun syafff”

“Lo gaboleh tidur, ayoo bangun syaaff” ucapku putus asa dengan mendekapnya.

“Jangan pergi syaf”

“gue sayang sama lo syaf” kataku berbisik lembut di telinganya

“Gue cinta sama lo, bertahan ya sayang” menatapnya dan hanya tersenyum lemah

(Tuhan jangan biarkan dia pergi, maafkan aku yang membuatnya terluka)

“Terimakasih atas segalanya dik” ucapnya tak lama dan pergi memejamkan matanya. tuk selama – lamanya.

        Sudah setahun yang lalu semenjak kejadian itu, hari ini aku menyapamu dengan setangkai bunga dari semesta. Tenang disana wahai cinta dan maaf atas keterlambatan rasa.- dariku dika.

S E L E S A I