Badut Dan Orang Buta

Nihilism, Aforism, Psikologi Sastra

"Jika saya ingat lagi, bahkan kembali terulang Saya bukanlah seorang pertapa yang benar-benar suci. Saya tahu saya masih manusia biasa yang tentu mempunyai dosa, saya mengalami beberapa kali peringatan tanda celakalah saya, Tak serta merta luput pula saya menengok untuk turun kebawah."

   Saya mengetahui itu. Beberapa kali saya memandang wajah kosong penolakan hadir menghadap kiblat tanpa peran, tanpa ekspresi tanpa alasan pun juga menari-nari. Saya bukanlah orang pandai yang bisa menilai harga setiap barang dan jerih payah seseorang. ya, jika diceritakan lebih lanjut itu pengalaman seorang laki-laki dengan kacamata hitam kulit putih pucat dengan baju gamis penuh keringat meski begitu ia tampak menekuni,saya benar benar tidak tahu mungkin saja ini hanya teka teki yang tak akan berujung, ya! sama saja dunia tidak akan ikut bersedih meski kehidupan tak memiliki arti mereka akan terus mencari tentu menghadapi segala tragedi itu sudah resiko nya! seumpamanya seperti berada pada gorong-gorong penuh tikus dengan gigi kelinci.

        Namun saya mengetahui beberapa hal, segala upaya-nya segala penderitaannya, ia tetap berjalan menyusuri kota-kota sambil menyebarkan pamflet toko kelontong dengan kemampuan langkah kaki tertatih yang dikerubungi belatung entah karena luka yang memborok atau memang sudsh ditakdirkan memiliki penyakit, ia melewati gorong-gorong sepi lalu berhenti pada tepi sudut sambil menggelar sajadah lalu beribadah mengeluarkan sebuah kitab dan membaca lantunan doa ditengah-tengah kota beserta hiruk pikuk bising kendaraan lalu beberapa kali saya menemui toko kelontong dengan pamflet " kami menjual kondom " memang benar sepertinya laki-laki tersebut tidak buta dan pincang apalagi mengklaim ' aku adalah orang paling menderita' mungkin saja gendang telinga saya mengada-ngada meski itu terdengar lirih malah saya berbicara ' dunia sangat berdosa! Sungguh ironi penuh konspirasi! ' Ah! Lagi lagi kebutaan membabi buta, lalu hendak saya pergi ada beberapa hal yang merubah pandangan saya, ternyata pemilik toko kelontong itu seorang lansia.

    Bagaimanapun saya teguh mencoba melangkah masuk kedalam, saya pada awalnya malu karena saya ternyata tidak mengetahui apapun yang terlihat dengan kedua bola mata produk barang yang dijual belum pernah saya coba sama sekali. maka dari itu saya tidak tentu juga menyukainya tapi jika saya belum masuk kedalam toko kelontong itu tak perlu juga merasa heran apalagi saya belum pernah membeli menjadi pelanggan pada akhirnya yang menuntun saya adalah rasa keraguan, pertanyaan itu membentur jidat saya merasuk dari segala sudut apakah saya hanyalah orang bebal yang menilai sesuatu dari luar?

         Lantas saya melangkah kaki memasuki pintu, terlihat beberapa pengunjung lain tampak bahagia tersenyum manis pada barang-barang yang dijual toko kelontong tersebut lalu pelanggan itu merogoh cuan dalam kantong, ya mereka membelinya! Bahkan ketika saya melewatinya ia tersenyum manis kepada saya. Setelahnya badut yang baru saja menari-menari diluar jendela toko kelontong berpapasan dengan saya dan mengantarkan saya kepada produk kebanggaan mereka yang berupa alat getar istilahnya dildo katanya ' barang ini laris manis bulan ini, entah karena kondisi atau suasana mungkin menghormati penemu alat getar maka dari itu mereka menamakannya dildo. Sekarang musimnya orang-orang menggunakannya sebagai maksud agar mereka bahagia ' pada awalnya rasa penasaran yang agak mengganggu saya bukanlah bentuknya yang lucu dan gagah perkasa, tetapi maksud dari kebahagiaan yang dikatakan oleh sang badut. Bagaimana bisa orang-orang bahagia, toh cara penggunaan yang tertera hanyalah sensasi biologis semata-mata pada kesempatan tertentu mungkin saja ia mengalami puncak dari kebahagiaan tetapi toh cuma semenit, dua menit atau tidak sama sekali. Saya ingin mencari makna setidaknya selama saya merasa cukup serta puas dengan sewajarnya, badut itu menderita menjadi olok-olok para pejalan kaki padahal ia bekerja keras sedemikian rupa, " bukankah laki-laki itu juga? ia menderita penyakit seharusnya merekalah yang merasa bahagia. Tapi apa alasan dibalik mereka semua?. Sekali lagi saya tak mengetahui realitas sosial apapun." - Tom