HITAM

Part 1. Curhatan HItam

HITAM

Aku Hitam. Seperti itulah ku diberi nama. Senangnya aku punya nama.Yang aku dahulu tak pernah mendapatkanya . Aku yang dulu.Dibuang oleh manusia yang miskin akan rasa kasih sayang di tempat yang kotor dan penuh hal tak berarti tak bermakna. Berlindungkan sebuah kardus yang separa bagianya telah mulai melunak oleh gerimis hujan malam itu. Namun ku tak pernah benci hujan. Hanya sedikit kesal. Malam itu begitu dingin.Yaa,terang saja. Hujan itu pergi meninggalkan aroma nya.S erta kenang kenangan untuk ku berupa udara dingin yang spontan membuat tubuh ini menggigil hebat. Bulu ku yang hitam dan lusuh ini tak mampu membendung dingin itu. Dan akhirnya, Sang kardus buruk itu jualah tempatku menghangatkan tubuh. Tetap saja. Ku tak pernah membenci hujan karnanya. Aku pun tak tau. Apakah diriku sedang bersyukur, atau hanya sekedar mencoba mengobati hati yang seperti sunyi akan senang.Saat itu. Aku adalah kucing hitam yang begitu menyedihkan.

Malam dihabisi oleh cahaya mentari. Menguasai hari dengan cahayanya yang hangat dan menyinari penjuru bumi. Ku mencoba keluar dari istana kardus ku pagi itu.Terseok lemah ku melangkahkan empat kakiku bergantian. Rasa lapar seperti menghujam perutku hebat.Ku terus langkahkan berat kakiku. Hingga ku cium aroma sedap dari tumpukan sampah yang baru saja dilempar oleh manusia. Entah apa sebabnya.Tenaga tiba tiba mengalir ke kakiku yang sebelumnya berat dilangkahkan. Melompat ku menuju sekantong sampah yang tercium sedap itu.Ku mulai menggalinya. Mencakari nya hingga beserakan sampah tersebut.Aku tak tau apa itu.Aku hanya mulai melahap dan melahap. Sedang asik diriku melahap.Ku rasakan air mataku menetes tampa aba aba, tampa ku sadari sebelumnya. Namun pada akhirnya ku sadar.Dengan seonggok sampah itu. Aku bisa kenyang dan bahagia.Bisa melanjutkan hidup ini untuk sementara. Hmm,Lagi – lagi. Aku mencoba mengobati hati yang pedih ini.

Dan inilah aku setelah beberapa gulir waktu ku jalani dengan tertatih dan sangat wajar tuk dikasihani. Akupun sudah memiliki sedikit daya dan upaya dengan bertumbuhnya tubuh ini.Walau sedikit demi sedikit. Ku berangsur lebih kuat. Hanya dengan memakan makanan sisa manusia dan sampah yang telah tersedia tiba tiba di sekitarku.Dunia seperti begitu kejam.Namun kadang dunia bisa juga bercanda. Membuat ku tertawa dan merasa baik sejenak.Kadang dunia juga bisa tiba tiba baik padaku. Seiring tiba tibanya seorang manusia yang berbeda.Memperhatikanku jauh dari seberang jalan sana.Ia turun dari tungganganya seraya memungutku di tengah ke tidak berartian itu. Seorang gadis muda yang lembut dan hangat. Aku tak tau dari sudut pandang manusia ia cantik atau tidak. Tapi dari mata seekor kucing sepertiku. Dia Cantik.

Ku belum tau siapa namanya

Ku belum tau siapa namanya. Seprtinya,Ia mau membawaku kerumahnya. Di perjalanan ku kerumah. Ke calon rumah baruku.Ku baru sadar.Ada keramaian disekitarku. Dan dari keramaian itu.Gadis ini yang dipilihkan sang pencipta untuku.Aku sangat bersyukur atas kedatanganya.Ia memegangku.Menggendongku yang masih kotor bau sampah dengan tangan kirinya yang hangat tampa rasa jijik sedikitpun.Sedangkan Tangan kananya memegang kendali agar kendaraan roda dua itu tetap stabil pada jalurnya.Sedikitpun aku tiada takut bersamanya diatas benda itu.Ku melihat kepadanya. Wajah seseorang yang memungutku. Ia kelihatan senang.Walaupun sebagian wajahnya telah tertutup oleh kaca dari sebuah benda bulat di atas kepalanya. Aku yakin, Ia senang menemukan ku. Syukurlah.

Oh nikmatnya. Gadis itu membersihkan tubuhku dengan sebuah kain yang tebal,basah dan lembut. Kami telah tiba. Dikala senja diluar sana. Cahaya yang perlahan sirna menandakan malam mulai lagi menguasai hari. ia membawaku ke sebuah tempat yang rapi dan ada tempat tidur di sana.Ku fikir.Ini mungkin ruangan tempat Ia melepas penat dan Lelah.Manusia dan kucing pun sama bukan?.Sama sama butuh tidur dan istirahat.Ia mengelusku manja.Memandangiku dari dekat. Lalu berkata

"Hey kucing manis, Sekarang inilah rumah mu. Terasa nyaman bukan?" Ucapnya dengan senyuman yang menambah kapasitas ketenangan ku. Yaaah. Syukurlah.

Tak lama setelah itu sesuatu berbunyi dari luar sana.Suara yang keras dan indah.Aku ingat apa itu.Sebuah panggilan. Panggilan untuk manusia agar ia menjalankan kewajibanya pada tuhan sang pencipta.Mendengar lantunan indah itu,Gadis itu berlalu pergi seketika. Masuk ke sebuah ruangan dan menutupnya dari dalam.Aku mengerti.Ia pasti mau menjalankan kewajibanya pada tuhan. Karna setauku. Itulah salah satu yang membedakan kami para hewan dan para manusia. Mereka memiliki beberapa hal yang harus dilakukan sebagai bentuk tunduk dan patuh kepada tuhan. Tak lama kemudian. Benar saja, Ia keluar dari ruangan kecil itu dalam keadaan muka yang basah.Sambil ia merapikan sebuah kain yang menutupi rambutnya.Ia mengambil kain putih yang besar dan Panjang. Mengenakanya hingga tertutup semua tubuhnya. Dan ia memeulainya dengan penuh ketenangan.

"Gety,Makan malam sudah siap. Jangan lupa Solat Magrib ya naak."Teriak seseorang dari luar ruangan kami. Suaranya seperti perempuan dewasa. Mungkin Ibunya.Aku terkejut. Ternyata dirumah ini ada manusia yang lain. Dan aku tau nama gadis ini sekarang. Hmmmm. Gety. Nama yang bagus.

"Udah miii. Bentar lagi aku nyusul kok" balas Gety.

Gety menggedongku keluar dari ruangan itu, Menuju ruangan yang lainya. Ku terkejut. Melihat ada beberapa manusia lain ternyata. Ada seorang lelaki yang terlihat dewasa,Seorang perempuan yang juga dewasa,Dan dua orang anak lelaki yang tampak sama.Sama dari rupa dan wujudnya.Melihatku mereka berteriak gembira. Mereka berhamburan dari kursi mereka dan berlari menuju ku dan gety.

"Kakak.Aku mau gendong, Aku mau gendong, Aku mau pegang. Ayolah kaaaak." Teriak mereka berdua kegirangan. Apakah mereka tidak pernah melihat seekor kucing sebelumnya?

"Tunggu Hasan, Husein. Kakak mau memberi Tamtam makan dulu. Sekarang,Duduk dengan rapi. Kalian mau. Jatah ayam goreng kesukaan kalian kakak kasih tamtam.?"Balas Gety.

"yaaaaah..Kakak pelit.."Ucap mereka kecewa

Mendengar candaan sang Kakak. Segera mereka berlari kembali ke meja yang telah dihidangkan begitu banyak makanan berbau enak itu. Rasanya ingin ku melompat dari pangkuan Gety dan menyantap semua makanan itu.

"Gety. Itu kucing kamu dapat dimana nak?" Ku cemas...Wah. semoga ibu gety mengizinkan keberadaanku disi.

"Dekat pasar ummi. Aku melihatnya dan kasihan, lalu ku pungut aja deh. lagian, kita kan belum punya kucing ummi.. Bolehkan ummi, aku memelihara kucing ini?. Rayu gety

"Tentu boleh nak. Namun kamu harus bertanggung jawab untuk makannya dan merawatnya baik baik. Ingat. Kucing adalah hewan yang disayangi Rasul kita. Jangan sampai zolim ya" Balas ibu gety.

"Iya Ummi. In syaa Allah. Aku janji pada ummi kan menjaga si Hitam dengan baik. Seperti ku menjaga diriku sendiri" Jawab Gety yang terlihat bahagia

Gety menurunkan ku. Melepaskan ku dari dekapanya. Di depan dua wadah yang berisi makanan dan air di satu wadah yang lainya. Rasa makanan itu begitu lezat. Tapi entah kenapa.Rasa makanan pertamaku waktu di tempat pembuangan dulu. Lebih lezat dari ini. Ku terus melahap cepat makanan ku. Sesekali ku menoleh ke arah Gety dan keluarga kecilnya yang sibuk dengan makanan mereka serta membicarakan banyak hal. Pemandangan yang hangat.Tampa ku sangka.Pertanyaan besar datang bertandang di fikiranku. Tentang dimana keberadaan keluargaku.Ku sungguh tak tau dimana mereka dan apakah mereka baik baik saja?.Yang ku ingat.Aku dibuang.Dipisahkan dari keluarga ku. Di masukan ke kardus lusuh. Hanya karena aku seekor kucing hitam. Tak cantik,Tak indah ku dipandang mereka.Mereka percaya.Bahwa seekor kucing hitam sepertiku mampu membawa kesialan dan bencana kekeluarga mereka. Sungguh fikiran yang tak masuk di akal tak termakan oleh logika.Apakah mereka lupa dengan tuhan yang menciptakan aku dan mereka?. Apa mereka segitu bodohnya.Tak tau bahwa ada Kuasa Tuhan di setiap peristiwa?. Memikirkan itu membuat ku melahap makanan dengan penuh kemarahan dan air mata. Arrgg. Aku belum sembuh seutuhnya. Mungkin fisiku tak mengapa. Namun berbanding terbalik dengan perasaanku.Tidak sedikitpun baik baik saja.

Malam semakin larut. Sedangkan keluarga kecil gety telah hening dimakan lelapnya tidur.Ditandai dengan terdengarnya Kumpulan bunyi bunyian penduduk malam diluar sana.

Mengalir himpunan suara itu masuk ke telingaku yang tajam. Syahdu.Mengantarkan ku ke dunia hitam dan tenang. Ku tertidur pulas.Dengan Gety yang memeluku hangat.

Esok datang ke hari ini meninggalkan hari kemarin.Ada sebuah persamaan antara kemarin dan hari ini.Hari ini,Pagi begitu cerah seperti kemarin. Ku terbangun dan mulai menjilati bulu bulu halusku yang hitam mengkilat terkena cahaya matahari tajam menembus jendela.Hangatnya.sampai ku sadar Gety ku sudah tak ada bersamaku. Sepertinya ia ada di ruangan makan keluarganya.Ku melompat dari tempat tidur nyaman itu dan menuju ke ruangan makan. Betapa senangnya.Wadah makan ku telah terisi kembali dengan makanan dan air. Juga ada wadah lain yang berisi susu.mmmm...Aduhai nikmatnya.

"Hitam?...Wah..si Tamtamku udah bangun nih.Selamat sarapan"Lembut gety menyapa ku.Terlihat Gety dan adik adiknya menyantap hidangan pagi buatan perempuan anggun yang dipanggil ummi itu.Juga terlihat disana,Seorang yang tenang dengan jenggot tipisnya menyeruput kopi pagi,Abi ia dipanggil.Apalah dayaku yang tak bisa berucap terimakasih kepada keluarga ini..Hanya bisa mengeong dan menggoyangkan ekorku sebagai tanda ku senang akan mereka. Dan tak lama kemudian.Hidangan di habiskan.Mereka pun pergi menuju pintu keluar.Menuju kesibukan masing masing.Meninggalkanku dan umi berdua saja dirumah itu.Gety pun mengucap kata berpisah dengan sebuah ciuman di keningku.Pastinya bukan perpisahan selamanya.Namun sementara.Sebentar saja.

Hitam.Begitulah aku dipanggil. Nama yang masuk akal. Melihat warna dari buluku.Dan Tamtam. Mungkin itu panggilan sayangnya padaku. Syukurlah.Aku disayangi oleh mereka.Hidup ku begitu sempurna.Tak pernah sesempurna ini. Hingga beberapa minggu kemudian.

kehidupanku berotasi.Kembali kepada kesengsaraan.Disebabkan oleh sebuah musibah menimpa keluarga Gety yang terjadi akibat tingkahku,Kebodohanku,Kesemberonoanku.Tampa sengaja.Ku membuat rumah yang penuh kehangatan itu disantap habis oleh amukan api besar dan sangat panas.

Saat malam hujan gerimis.Malam itu begitu gelap.Entah kenapa bola bola yang bergantungan di atas itu tak mengeluarkan cahaya seperti biasanya.Tiba tiba mati diiringi teriak tangis adik adik Gety yang takut akan gelap.Bagaikan penyelamat.Gelap itu sirna dengan cahaya api kecil dari lilin yang dibakar umminya Gety.Keluarga itu pergi ke tempat istirahat mereka masing masing sembari si ummi menyelesaikan pencahayaan dan menyusul juga untuk istirahat.Gety pun telah lama terlelap.Namun tidak denganku.Ku terjaga dimalam hari.Mengawasi setiap sudut ruangan yang mencurigakan.

Ku mendengar suara langkah kaki kecil yang berisik.Ku yakin.Itu adalah santapan malamku.Oh ya.Aku juga bisa mempersembahkan targetku itu kepada Gety.Agar ia bangga dan memujiku.Kasih sayangnya pasti kan berlimpah – limpah kepadaku.Akan ku dapatkan tikus nakal itu.begitu pikir ku.

Ku berlari kencang.Instingku menuntunku mengejar tikus yang muncul dari balik kotak kayu besar berisikan baju bajunya Gety.Kencangku mengejar.Tinggi ku melompat menggapai tikus itu yang mencoba meloloskan diri dariku.Ia begitu gesit.Namun aku tak akan kalah.Ku mengejarnya hingga pelarianya berakhir di atas meja yang memiliki kaca diatasnya.Tikus itu tak berdaya di bawah cengkramankau yang kuat.Ia melawan dan terus bergerak.Ku mulai menggigitinya.Sadiskah?.Tentu tidak.Manusia punya caranya dalam menyantap.Dan kucing pun punya cara untuk menyantap.Beda cara.Tujuanya sama.Kenyang tentu saja.Dan kebanggan untuk hasil buruan.Bukankah manusia juga bangga dengan hewan buruanya?.

Bukankah manusia juga bangga dengan hewan buruanya?

Kebodohan itu pun terjadi.Tampa sengaja.Ku menjatuhkan Api kecil yang menjadi sumber cahaya itu kebawah.Membakar kain penutup jendela dan berubah menjadi sumber malapetaka.Ku panik.Api mulai menjalar bagai ular kemana mana.Panas dan asap memenuhi seisi rumah dengan pekatnya yang menyakiti mata dan menyesakan nafas.Namun instingku menuntunku membangunkan Gety dengan menjilati pipi dan hidungnya.Ku mengeong keras hingga ia terjaga. Masih jelas di fikiranku betapa rasa takut merubah Gety beku tampa berbuat dan berkata apa apa.Ia hanya ternganga melihat api yang besar penuh berontak dihadapanya.Kejadian itu begitu cepat.Merenggut beberapa nyawa.Kecuali aku dan Gety. Gety Yang nyawanya selamat.Karna dia yang menggedongku melompati jendela. Mencoba meloloskan diri dari api yang begitu cepat membesar dan menjalar keseluruh rumah .Apa daya karna pintu keluar habis dibakar simerah yang menggila.Gety selamat.Namun jiwa dan fikiranya direnggut entah kemana.Terang saja. Rumah nya terbakar hebat di pelupuk matanya.Belum lagi tak ada tanda tanda selamat dari Ibu,Ayah serta adik adiknya. Ooh tidak!..Apa yang telah aku lakukan.?!

Tangisan Gety malam itu begitu keras diawal.Dan begitu hening di pagi harinya.Kabar duka menyelimuti hatinya Namun tatapanya kosong dengan air mata yang terus keluar membasahi pipi.Keluarganya telah kubunuh. Ku renggut keberadaan mereka. Menorehkan luka yang menganga dalam di hatinya.Tak tau entah kapan sembuhnya luka itu.Aku sungguh tak berdaya.Hanya bisa mengikutinya dan selalu berada di dekatnya.Walaupun rasanya aku seperti tidak ada saja saat itu.Mengunkapkan maafpun aku tak sanggup . Ooh tidak!!!.Apa yang telah aku perbuat!!?. Dasar kucing pembawa sial tak berguna!.

Dan dari sinilah. Kehidupan  kami berdua dimulai. Yang aku yakin.Titik awal yang pedih ini akan berakhir dengan kebahagiaan untuk kami berdua. Karna ku yakin. Tuhan tidak akan membiarkan kami begitu menderita. Dan ku akan buktikan. Aku bukanlah Si Hitam pembawa sial seperti manusia manusia bodoh berkata.

Maaf kan aku Ghety. seumur hidupku, aku mohonkan maaf padamu. 

Berlanjut...