"nyunggi kompor"

adab ketika berhutang dan hukum berhutang

"nyunggi kompor"
sumber: Doc. I'vekoaladesing

“Nyunggi Kompor”

Manusia merupakan makhluk sosial yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Proses interaksi juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masing-masingh individu. Kebutuhan yang pasti diperlukan oleh manusia adalah sandang, pangan, dan papan. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut pastinya memerlukan adanya biaya.

Biaya kehidupan adalah jumlah output yang harus dikeluarkan disetiap harinya, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ketika biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pemasukan yang didapat, pastinya seseorang akan mencari seribu satu cara untuk memperoleh pemasukan agar dapat mencukupi kebutuhan. Sebagian orang memilih hidup dengan apa yang ada atau bisa dikatakan hidup seadanya. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang memilih berhutang supaya dapat mecapai taraf kehidupan yang diinginkan.

Dikalangan masyarakat tidak asing lagi dengan kata-kata “nyunggi kompor”. Apabila kita artikan kata nyunggi bisa berarti membawa sesuatu beban yang berada di atas kepala. Makna dari kompor menurut KBBI adalah perapian untuk memasak yang menggunakan minyak tanah, gas, atau listrik sebagai bahan bakar. Dengan kedua arti diatas dapat kita lihat bahwasannya nyunggi kompor memiliki makna orang yang sedang menanggung sesuatu yang dapat menjadi beban pikirannya.

Di tengah-tengah masyarakat kata-kata ini digunakan oleh orang untuk menjuluki orang lain yang sedang menanggung hutang. Hutang yang dimaksud disini adalah hutang yang berupa uang dengan jumlah yang cukup banyak. Uang yang dipinjam biasanya diperoleh dari bank, lembaga, ataupun ke perseorangan.

 

            Adapun adab-adab yang perlu diperhatikan dalam berhutang, diantaranya;

  1. Terdapat Saksi.

Adanya seorang saksi dalam akad hutang-piutang bertujuan untuk mencegah dan meminimalisir masalah yang akan timbul dikemudian hari.

  1. Tidak mengandung riba.

Didalam agama Islam riba adalah salah satu dosa besar yang sudah sepantasnya sebagai umat muslim kita harus menjauhinya.

  1. Memiliki niat untuk segera mengganti.

Ketika kita hendak berhutang kepada seseorang, sudah sepantasnya kita segera mengembalikannya. Segera disini juga harus diusahakan bukan sekedar menunggu waktu dan rizki yang akan datang.

  1. Membalas Budi.

Ketika ada orang yang meminjamkan hartanya untuk kita pastinya kita merasa gemira karena masih ada orang berbaik hati meminjamkan hartanya untuk kita. Disamping kita memiliki rasa gembira tersebut kita sebagai peminjam juga harus memiliki rasa berutang budi, agar kita tidak lupa akan kebaikan seseorang tersebut dan suatu saat kita juga harus membalas kebaikannya.

  1. Berhutanglah dalam keadaan terpaksa.

Ketika kita ingin berhuatang haruslah kita diposisi dimana kita sangat membutuhkan. Jangan berhutang hanya untuk memenuhi gengsi diri kita.

            Point-point diatas merupakan beberapa ada yang harus diperhatikan didalam utang-piutang.

            Disamping adab-adab yang harus diperhatikan, terdapat pula hukum hutang-piutang. Hukum utang-piutang sediri dalam islam adalah boleh, dimana pada dasarnya utang-piutang tersebut adalah tolong-menolong sesama manusia.

         Dengan demikian, meskipun utang-piutang diperbolehkan sudah semestinya kita tidak melupakan adab-adabnya.

Banding, Bringin, Kab. Semarang 02/27/2021