The Lost Ending

Sebuah Cerpen dari kisah nyata

The Lost Ending
https://come.ertubilgisayar.com/23617-2/
The Lost Ending

THE LOST ENDING

 

            Rinai menebal jendela dengan embunya. Angin berhembus dingin keluar masuk kelas. Namun tak cukup untuk mendinginkan hati hati kami yang hangat kala itu. Kelas 9.3. Kelas yang hangat dan penuh dengan orang orang yang unik didalamnya. MTsN Bukareh adalah sekolah baru buatku. Sebab aku adalah murid pindahan dari kota. Akibat kenakalan ku dan ke abai an ku pada sekolah dan guru, dikeluarkan adalah hal terakir yang bisa sekolah lamaku lakukan untuk membungkam setiap tingkahku yang tak jarang membuat mereka kewalahan dan payah. Hingga sekolah kecil di perkampungan ini sudi menampungku. Dan membuat banyak perubahan padaku. Tentunya, sekolah ini juga mempertemukanku dengan kawan kawan yang luar biasa. Mereka yang apa adanya. Pertemanan tampa kasta dan tampa pura pura. Terima kasih Tuhan, karena kau pertemukan aku dengan mereka.

Nama ku Andika. Dan inilah kelas ku, Kelas 9.3. salah satu dari 3 kelas yang diperuntukan untuk anak kelas 9. Dan kelas ku ini, di isi oleh orang orang yang luar biasa unik dan nyelenehnya. Bersama mereka aku berubah dari seorang siswa yang amburadul, menjadi siswa yang tetap nakal namun masih pada tempatnya. Bisa dibilang, di sekolah baru ku ini terasa lebih hidup dan berwarna. Aku tidak pernah lagi bolos dan melawan pada guru guru ku. Walaupun terkadang iseng mengerjai mereka. Mau bagai mana lagi, itulah kesenanganku. Dimarahi guru bukan suatu hal yang buruk bagiku. Karena aku tahu aku nakal makanya mereka memarahiku. Maka wajar mereka terkadang sampai menghukumku. Tapi, di dalam kemarahan itu. Aku merasakan kasih sayang mereka yang tulus. Berbeda dengan sekolah lamaku di kota. Yang bersikap dingin padaku dan menganggapku sekedar parasit di kelas. Pengaruh buruk yang harus di jauhi murid murid yang lain. Di sana, aku sama sekali tidak di anggap. Walau ada beberapa guru yang peduli padaku. Tetap saja, sekolah itu menjadi momok yang memuakan bagiku.

            Kelas penuh dengan uforia. Segala jenis stres akibat peliknya ujian akhir termuntahkan dari kepala. Belum lagi sebuah berita yang menyenangkan datang untuk merayakan hari perpisahan kami nanti. Sebuah rencana rekreasi ke Pantai Carocok Sumatera Barat. Mendengar hal tersebut. Hati hati kami bertambah kadar bahagianya. Sungguh hari yang sangat dinanti nantikan. Karena hari itu bisa jadi hari dimana kami dapat membuat lebih banyak kenangan lagi sebelum kami dipisahkan menuju dunia SMA yang bukan tidak mungkin bakal membosankan nantinya. Namun, siapa sangka perjalanan yang harus nya menyenangkan. Berubah menjadi perjalanan menuju kedukaan.

            Arman. Salah satu teman sekelasku di lokal 9.3. Teman pertama ku di sekolah baru ini. Ia sering sekali memboncengku dengan vespa tuanya. Baik itu pergi ataupun sepulang dari sekolah. Penggemar berat reper terkenal bernama Eminem ini tiba tiba lesu di hari hari menuju acara rekreasi kami akan ternyatakan. Ntah apa yang merasukinya kala itu. Di teras musholla kami termenung berdua. Tak tau apa yang dimenungkan dan tak mengerti kenapa kami bermenung. Di keheningan itu, munculah kata kata yang sama sekali tidak ingin ku dengar darinya. Ia lirih memanggil nama ku. Dan dengan wajah mendungnya ia berkata bahwa ia ragu untuk ikut acara rekereasi sekolah bersama teman teman yang lainya. Sontak, aku keberatan. Aku mendebatnya dan mencoba meyakinkanya untuk pergi. “ Jika kau tidak hadir, awas saja. Aku akan pergi kerumahmu dan ku tarik kau sampi ke dalam bus”. Nada bicara ku terdenga kasar dan tegas. Membuatnya berfikir ulang atas apa yang tadi ia ucapkan padaku. Apa jadinya kalau ada salah seorang dari kami tidak ikut acara itu ?. Hal yang sangat tidak boleh dibiarkan. Tidak boleh dibiarkan terjadi. Sejak saat itu, ia pun mulai memikirkan kembali keputusanya.

            Hari itupun tiba. Bersama terbitnya mentari ku pacu laju sepeda ku ke sekolah. Hari ini Arman tidak bisa menjemputku. Entah apa alasanya aku pun tak peduli dan tidak mau tau. Tak akan ada yang mampu merusak perasaan ku terhadap hari ini. Jika nanti ia tak kunjung datang, ancaman yang sebelumnya ku lemparkan kepadanya akan pasti ku lakukan. Setibanya ku di sekolah. Ku lihat lapangan kecil itu sudah ramai oleh wajah wajah riang penuh senyuman. Gelak tawa dan candaan bersahut sahutan layaknya kokokan ayam jantan di subuh hari. Suasana itu berlansung hingga sebuah bus datang menepi di depan gerbang sekolah kami yang lusuh. Alangkah gembiranya kami menyaksikan bus itu disana. Kebahagiaan yang sangat simple bagi anak anak kampung. Andai saja jika teman teman ku yang di kota melihat ini dan mengejek mereka kampungan. Aku pasti akan lansung menempelkan tinju panasku ke pipi pipi mereka. Itulah yang membuatku senang sekolah di sini. Tidak seperti di kota, yang banyak kepalsuan dan kedengkian antara teman. Disini orang orang tulus dan rendah hati banyak bertebaran. Mereka bisa sebahagia ini dengan hal yang terlihat biasa saja. Itu membuatku berdebar debar. Dan aku yakin disinilah harusnya aku tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan.

            Sebuah vespa tua butut datang. Membelah angin dan menerbangkan dedaunan yang berserakan di jalanan menuju sekolah kami. Tidak perlu ku tebak karena dari suara khas kendaraan tua itu aku tau siapa penunggangnya. Benar saja, Arman akhirnya muncul di pandangan. Sungguh lega hati ini melihat kedatanganya dengan senyuman di muka. Aku menjabatnya dan memukulkan tinju pelan ke dadanya. Menandakan aku bangga dan berterima kasih atas keputusanya untuk datang. Setelah vespa tua itu di parkirkan rapi, kami pun lansung menuju ke dalam bus untuk memilih tempat duduk yang paling cocok untuk kami berdua. Kursi nomor 3 dari belakang bagian kiri adalah tempat yang kami fikir paling nyaman kala itu. Kami duduk dan mulai saling melontarkan canda tawa. Mengobrolkan hal hal lucu dan tentunya tidak berfaedah. Hingga bus itu pun melaju menuju destinasi yang telah kami impikan lama. Lalu suatu ketika, Arman mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah slayer berlukiskan tengkorak yang terbakar. Ia tau betul kesukaan ku yang berbau rock atau metal. Ia memberikan hadiah itu dan lansung ku pakai untuk membuatnya bahagia. Ia pun tak kalah kerenya. Topi paruh pendek bewarna hijau dan berukirkan LA di depanya. Topi yang sering di pakai Eminem katanya dengan bangga. Gawai pun di keluarkan bersama headset yang kami pakai satu berdua. Sebuah lagu dari Eminem berjudul ‘Stan’ menjadi lagu yang kami nyanyikan berdua di perjalanan. Hingga kami lelah dan ketiduran.

            Di tengah perjalanan, kami sempat terjaga. Terjaga oleh suara ribut teman teman lainya. Aku dan Arman tentu penasaran dan sigap memperhatikan apa yang sedang terjadi. Sontak semua serentak tertawa. Ternyata salah satu dari teman kami muntah muntah. Mabuk kendaraan rupanya. Aku dan Arman pun ikut tertawa dan mulai menyarankan untuk memberinya obat anti mabuk yang telah ku persiapkan lama di dalam saku ku. Keadaan pun kembali normal. Hanya suara beberapa teman yang sibuk berbincang sayup sayup terdengar di atas kendaraan. Juga ditemani beberapa lagu khas minang yang di putar oleh supir yang aku yakin dia bukan orang minang. Namun bapak paruh baya itu adalah orang Medan. Jelas dari logat bahasanya yang keras dan tegas. Luar biasa. Mungkin itulah salah satu contoh dari indahnya ke beragaman. LOVE YOU INDONESIA

“Dik. Kira kira, setelah kelulusan ini. Kamu mau lanjut ke SMA mana ?.” Tanya Arman tiba tiba

“Aku sih maunya ke SMKN 1 Bukittinggi atau ke SMKN 1 Agam saja. Kalau kamu Man ?” Tanyaku balik

“Aku masih bingung nih. Emang kamu mau ambil jurusan apa nanti di sana ?” Tanya nya lagi

“Hmmmm. Komputer Man. Mending kita samaan saja. Biar aku bisa nebeng terus sama kamu. Lumayan, kan hemat ongkos. Hehehe” celotehku

“ Hahahaha.. boleh juga tuh. Nanti kita daftar nya sama sama ya Dik..”

“Ok sip. Tak sabar aku jadinya. Membayangkan satu sekolah sama kamu lagi. Gila gilaan lagi kita.ya ngak ?. hahahaha”

Kami kembali sibuk terbahak bersama. Sembari kendaraan terus melaju pada jalurnya. Hingga tampa terasa, destinasi itu telah hadir di depan mata. Pantai Carocok dan Pulau Cingkuaknya yang indah.            

            Pantai begitu indah dan romantis. Pulau Cingkuak menjadi saksi betapa rusuhnya kami. Kami begitu banyak membunuh waktu dengan tawa. Hingga tak terasa, Senja merah muda itu menyapa kami hangat. Berkata bahwa temaram tak lama lagi akan datang mengusir mentari dari tahtanya. Kesenangan pun mulai mereda. Berganti kelegaan akan hari yang bahagia. Namun, satu hal bisa merusak segalanya. Arman menghilang. Tak tau kemana dan dimana. Membawa kecemasan ke setiap hati dan hinggap di dalamnya. Tawa itu sirna, candaan itu kian meredam. Berganti isak tangis dari beberapa murid perempuan yang tidak tahan dengan peliknya keadaan. Ya tuhan. Tolong kami.

            Kejadian itu terjadi begitu saja. Saat itu, aku sedang sibuk bermain jetski air bersama salah satu teman ku bernama Fahmi. Sedang asik ku melaju kesana kemari menggores lautan, tiba tiba aku terhenti karena suatu keributan di bibir pulau cingkuak tempat kami bersenang senang. Terang saja ku lajukan jetski ku ke tempat asal keributan. Ku lihat ada tiga orang teman ku disana. Arman, Haris, dan Arfan. Jelas sekali ku lihat bahwa Arfan saat itu tenggelam lalu di susul dengan Haris. Arman terlihat membantu Arfan namun Haris tidak ada yang membantu. Mereka bertiga memanglah tidak bisa berenang. Bahkan di kelas ku bisa di hitung berapa saja murid yang bisa berenang. Ntah apa yang membuat mereka berani untuk berenang menjauh dari bibir pulau. Aku sigap melompat dari jetski ku untuk menolong Haris yang terlihat telah susah bernafas dan panik. Arman pun berhasil menyeret Arfan ke tepi karena posturnya yang tinggi membantu kepalanya selalu di atas air dan tidak tenggelam. Aku pun menyusul untuk menarik Haris ke tepian. Hingga aku mendahului Arman dan Arfan. Sejak saat itu lah. Sesuatu hal yang tidak ku mengerti terjadi. Para murid perempuan bersorak dari bibir pantai.

“Diiik.. Diik. Arman mana ?..”

Jantungku bagai di hantam sesuatu. Berdegup kencang dan mengalirkan kecemasan ke segala penjuru tubuh. Ku menoleh ke belakang. Ku terpana. Membisu tampa kata. Yang terlihat hanya Arfan yang telah mulai membaik dan berjalan dalam air dangkal. Ia pun ikut menoleh kebelakang dan juga terheran heran. Kemana Arman ?. Kami semua panik. Siswa yang pandai berenang pun termasuk aku mulai mencari. Berenang dan menyelam kesana kemari hingga membuat telapak tangan dan kaki kami keriput memucat putih. Sedang sibuk kami melakukan pencarian. Penjaga pantai pun datang. Mereka berjumlah dua orang. Namun, bukanya ikut mencari. Mereka memerintahkan kami untuk berbaris terlebih dahulu dan melakukan absensi kehadiran. Dengan alasan mereka ragu bahwa teman kami itu hilang dan menuduhnya pergi keluyuran atau pergi pacaran. Terangsaja kami berang.Kemarahan tidak terbendung dalam dada kami. Kami pun berontak dan menyerang penjaga yang bermulut tajam itu. Namun di lerai oleh para guru kami. Sadar emosi kami tidak akan bisa kami tumpahkan kepada mereka. Maka kami kembali ke lokasi dan kembali mencari. Tentu dengan urat nadi yang masih meregang karena emosi.

            Hujan merintik halus di sore itu. Dengan cahaya merah muda yang tak kunjung sirna di atas sana. Arman ditemukan tewas. Tersangkut dibawah perahu nelayan.Kenyatan yang sungguh pahit dan menusuk jantung kami. Salah satu sahabat terbaik pergi tampa mengucapkan selamat tinggal. Menghitamkan hari dan menyirnakan segala warna yang sebelumnya terbit dalam hati. Kami menangis. Mungkinkarena itu alam ingin memudarkan air mata di setiap pipi kami dengan sapuan lembut gerimis senja itu. Melihat Arman ditemukan tenggelam. Tubuh lemahnya terapung di permukaan air asin dan di gotong bersama ke tepian pantai. Jadi sudah ia menghitamkan hari kami yang penuh warna. Hanya menangis yang kubisa kala itu. Bersama hadiah pemberianya yang masih ku genggam erat di tangan kananku. Arman telah pergi dan itulah kenyataan. Sebuah kehilangan yang pahit dan merusak ku dari dalam. Aku sempat merasa menjadi sebab akan kematianya. Ingatan saat saat aku memaksanya untuk pergi terngiang ngiang di kepala. Merusak mental dan membuatku membenci diriku sendiri kala itu. Namun begitu, aku tetap yakin dan berusaha untuk yakin demi kewarasanku. Ia pergi bukan untuk membuatku sedih. Ia pergi bukan untuk tidak berjumpa lagi. Ia pergi karena yang maha penyayang memanggilnya untuk pulang. Aku percaya hingga sampai detik ini hingga seterusnya. Bahwa dia sahabat terbaiku. Yang tidak akan mau melihatku bersedih dan terpuruk dalam duka akibat ditinggalkanya. Selamat tinggal kawan. Tunggu aku disana. Karena kematian bukan untukmu seorang. Kematianku pun akan ada saatnya. Selamat menunggu disana. Hari dimana kita kembali bersua dan membahas segala kebodohan kita di dunia. Selamat tinggal kawan. Sosokmu tidak akan pernah ku lupa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Andika (Andri Andika). Lahir di sebuah alam yang cantik bernama Kabupaten Agam Sumatera Barat 30 Juli 1995. Putra asli minangkabau yang memiliki hobi menulis dan membaca. Semoga cerita yang telah ditulis dengan sepenuh hati ini, bisa merasuk ke setiap rasa pembaca.

Salam Literasi dari tanah minang.

 

FB : Andri Andika

IG : @andriandika30

Wa : 0812-6877-5095